Klinik Tumbuh Kembang RHE Bantu Anak Berkebutuhan Khusus

KAMIS, 12 JULI 2012 13:21 wib

K. Wahyu Utami - Okezone

Syukuran soft opening Klinik RHE (Foto: Heru/Okezone)


ANAK berkebutuhan khusus sering kali sulit mendapatkan fasilitas kesehatan. Kehadiran Klinik Tumbuh Kembang RHE menjadi jawaban untuk mengakomodasi kebutuhan tersebut secara maksimal.

Setiap anak memiliki proses tumbuh kembang yang berbeda satu sama lain. Dalam perjalanannya, ada anak-anak yang memiliki periode tumbuh kembang cepat dan juga lambat. Bagi anak yang mengalami pertumbuhan lambat, mengatasinya sejak dini menjadi pekerjaan rumah yang perlu dilakukan.


Perlu diketahui bahwa gangguan perkembangan yang diintervensi secara dini akan memberikan hasil yang lebih baik. Di Indonesia, jumlah balita mencapai angka 10 persen dari penduduk, di mana prevalensi gangguan perkembangan bervariasi 12,8 persen sampai dengan 16 persen. Untuk itu, dianjurkan melakukan observasi atau
skrining tumbuh kembang pada setiap anak.

Gangguan perkembangan yang banyak dikeluhkan orangtua pada kondisi pertumbuhan anak-anaknya biasanya bersifat sederhana. Misalnya, keterlambatan bicara, gangguan irama dan artikulasi bahasa, kesulitan menguyah dan menelan, kesulitan pemusatan perhatian dan belajar, hiperaktif, gangguan pendengaran atau penglihatan, gangguan koordinasi dan keseimbangan gerak, gangguan emosi,
celebral palsy, autis, down syndrome, dan gangguan perkembangan lainnya.

Mengingat pentingnya penanganan sejak dini, mendatangi klinik khusus yang dapat mengatasi gangguan perkembangan tersebut menjadi solusinya. Kehadiran Klinik Tumbuh Kembang anak RHE yang memberikan layanan deteksi dini, intervensi dini, stimulasi, dan evaluasi berkala terhadap tumbuh kembang anak secara terpadu dengan tim dokter spesialis dan terapis anak yang berpengalaman ini dapat menjadi pilihan. Di sini, setiap anak akan dibuatkan
Individual Treatment Program atau Program Terapi Individu (ITP) sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.

"Klinik ini didirikan karena terinspirasi dari anak saya sendiri yang memiliki gangguan tumbuh kembang, karena di Jakarta susah sekali untuk menemukan klinik khusus untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Karena itu, saya berkeinginan untuk memberikan kemudahan untuk para orangtua yang memiliki kebutuhan yang sama seperti saya dalam kehadiran klinik ini," tutur Windi Harun, Direktur Klinik Tumbuh Kembang Ruwivito Harun Evasari (RHE) saat berbincang dengan
Okezone di acara soft opening Klinik RHE di Jakarta, Kamis (12/7/2012).

Klinik ini hadir di pusat Kota Jakarta dengan fasilitas memadai, di antaranya observasi atau
skrinningoleh tim dokter tumbuh kembang anak, psikolog anak dan dewasa, fisioterapi, terapi wicara, terapi sensori integrasi, terapi perilaku, okupasi terapi, terapi relaksasi sensorik atau snozellen, terapi kelompok, orthopedagog, pijat bayi kinestetik, terapi inhalasi atau nebulizer dan orthotic prastetic di mana semua fasilitas tersebut didukung oleh dokter-dokter spesialis yang terpercaya dan berpengalaman.

Kehadiran di klinik ini kian nyaman karena setiap ruang pada klinik ini dirancang sesuai dengan kebutuhan yang mengutamakan kenyamanan dan keamanan anak. Jika ingin mengunjunginya, klinik ini terletak di Jalan Rawamangun No. 60, Pramuka, Jakarta Pusat, dengan jam operasional Senin- Sabtu mulai pukul 08.00-19.00 WIB.
(ind) (tty)

 

 

 

 

Kehadiran Adik Tantangan untuk Anak Berkebutuhan Khusus

KAMIS, 12 JULI 2012 17:04 wib

K. Wahyu Utami - Okezone

Dra. Ratu Adhe Wazna Sofwat (Foto: Heru/Okezone)


TUMBUH kembang anak ditentukan oleh perilaku lingkungan keluarga dalam mendidik dan membesarkannya. Jika anak yang lahir mengalami gangguan tumbuh kembang, maka sebaiknya orangtua memberikan energi tak ternilai bagi si anak untuk bisa berkembang secara optimal seperti anak-anak pada umumnya.


Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) bukan berarti orangtua harus menyembunyikan anak tersebut di dalam rumah atau justru merasa malu telah mempunyai anak dengan perbedaan tersebut. Justru orangtualah yang harus pertama kali dapat menyikapi hal ini agar anak dapat menjadi mandiri dan percaya diri terhadap dirinya sendiri.

Memiliki anak “special” tidak berarti orangtua harus memutuskan harapan untuk mempunyai anak selanjutnya. Orangtua dapat mempersiapkan beberapa hal untuk siap memberikan pengarahan terhadap si anak dan calon adiknya nanti.

Mengenai hal ini, Psikolog, Dra. Ratu Adhe Wazna Sofwat, M.Psi, mengatakan bahwa dengan memberikan adik pada si ABK, dia justru akan mempunyai tantangan untuk dapat berkomunikasi ataupun memelihara hubungan sosial dengan sang adik. Si anak ini akan terpacu untuk memberitahukan ilmu yang dia miliki untuk si adik.

"Tidak perlu takut jika ingin memiliki anak kembali, justru dengan kehadiran seorang adik, hal tersebut akan membuat ABK menjadi terpacu untuk mengenal dan berkomunikasi dengan teman yang dia pikir sebayanya. Mereka memiliki kelebihan yang bisa diberikan kepada calon adiknya," jelas wanita yang sekarang ini menjadi salah satu tenaga ahli di Klinik Tumbuh Kembang RHE saat berbincang dengan
Okezone di Jalan Rawamangun, Jakarta, Kamis (12/7/2012).

Selain itu, menurut Adhe, dukungan keluarga juga dapat memberikan energi yang tidak ternilai bagi ABK. Ini karena dukungan tersebut akan memupuk keterlibatan emosi antar anggota keluarga, menciptakan komunikasi yang saling mendukung antar keluarga, mengajarkan keterampilan hidup sehari-hari melalui contoh tindakan, menanamkan rasa saling mengasihi dan menyayangi antar saudara, dan dapat memberikan
support sosial baik fisik maupun psikis.

"Bantuan seluruh anggota keluarga dalam membangun tumbuh kembang ABK benar-benar dapat menciptakan hubungan yang harmonis dan kondusif antar anggota keluarga, agar terjalin kerja sama yang baik dalam mengembangkan potensi ABK," tambahnya.

Pengasuhan dan pendidikan yang baik untuk ABK tidak harus memerlukan dana yang besar menurut kebanyakan orang. Justru banyak keluarga khusus yang berhasil, meskipun kondisi ekonomi mereka yang terbatas. Kuncinya, kehidupan sebuah keluarga yang kondusif dan anggota keluarga memiliki kedekatan emosional, serta sifat komunikasi satu sama lain akan tersedia berbagai macam dukungan untuk mengatasi hambatan perkembangan yang dialami oleh anak.

"Tindakan yang harus Anda miliki untuk ABK ini ialah bantu dia, kasihi dia, optimalkan potensinya, dan cintai dia sebagai anugerah Tuhan," tutupnya.
(ina)
(tty)

 

 

 

 

 

Dukungan Orangtua Bantu Kesembuhan Anak Berkebutuhan Khusus

KAMIS, 12 JULI 2012 14:45 wib

K. Wahyu Utami - Okezone

Dra. Ratu Adhe Wazna Sofwat (Foto: Heru/Okezone)


SELAIN bantuan medis, kesembuhan anak berkebutuhan khusus bertumpu penting pada dukungan orangtua. Untuk itu, orangtua perlu memberikan dukungan penuh pada anak-anak berkebutuhan khusus.


Menghadapi anak berkebutuhan khusus memang diperlukan kesabaran sekaligus kecerdasan dalam memberikan fasilitas terbaik baginya. Di luar itu, dukungan penuh melalui sikap lembut sehari-hari menjadi hal yang perlu dilakukan. Hal ini penting untuk membantu perkembangan anak-anak berkebutuhan khusus berjalan optimal.

"Orangtua sering kali marah saat mengetahui mendapatkan anak yang 'spesial' dan hal itu sangatlah manusiawi. Namun, Anda sebagai orangtua harus dapat menyikapinya secara positif agar selanjutnya orangtua dapat menemukan langkah-langkah yang tepat untuk mengoptimalkan perkembangan dan berbagai potensi yang masih dimiliki oleh anak-anak tersebut," tutur Dra. Ratu Adhe Wazna Sofwat, M.Psi, Psikolog anak saat berbincang dengan
Okezone di acara pembukaan Klinik Tumbuh Kembang RHE, Jakarta, Kamis (12/7/2012).

Disamping orangtua yang memiliki Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), mereka juga memiliki modalitas yang cukup baik untuk mengembangkan potensi yang ada di dalam anak tersebut. Selain itu, dukungan keluarga sangat diperlukan, khususnya di lingkungan rumah itu sendiri mengingat tiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

"Meskipun orangtua sudah pergi ke tempat terapi, namun jangan sepenuhnya diserahkan pada terapis. Dukungan dan kasih sayang orangtua yang diberikan lewat sentuhan tubuh paling penting untuk memberikan efek baik pada anak 'spesial' itu sendiri," tutupnya.
(ind)
(tty)