Jumat, 13/07/2012 09:34 WIB

Pesan Farhan Buat Orangtua Anak Autis

Putro Agus Harnowo - detikHealth

Berbagi informasi terkini dari detikcom



Jakarta, Presenter kondang Farhan punya pengalaman merawat anak autis. Farhan tak sungkan menceritakan pengalaman merawat anak autis.

Farhan mengaku memang melihat ada yang berbeda dengan perkembangan putera sulungnya sejak bayi.

Ia pun segera membaca panduan tumbuh kembang anak yang diperoleh dari posyandu dan menemukan adanya proses perkembangan yang kurang sesuai. Tanpa harus berlama-lama, ia segera mengkonsultasikan puteranya ke psikolog.

"Waktu dia berusia 18 bulan sudah kita deteksi dan kita bawa ke psikolog. Cuma yang lucu, yang pertama kali diterapi itu bukan anaknya tetapi orangtuanya. Kita sebagai orangtua mau nggak mau harus terapi dulu selama 6 bulan, sambil anaknya juga diterapi sampai sekarang," kenang Farhan ketika berbincang dengan detikHealth dalam acara Soft Opening Klinik Tumbuh Kembang Anak Ruwivito Harun Evasari (RHE) di Jakarta Pusat, seperti ditulis Jumat (13/7/2012).

Anak pertama Farhan yang bernama Rizky (13 tahun) didagnosis autis ketika berusia 18 bulan pada tahun 1999. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa autisme yang dialami disertai hiperaktifitas.

Mengetahui sang buah hati membutuhkan penanganan khusus, Farhan pun menabung selama 6 tahun untuk dapat membangun rumah yang memiliki fasilitas terapi untuk si buah hati.

Ketika itu, hal pertama yang menyesakkan dada adalah bagaimana ia dan istri sebagai orangtua bisa menerima keadaan bahwa si buah hati memiliki kebutuhan yang sangat berbeda. Akhirnya, ia harus mengubah persepsinya mengenai pengasuhan anak.

Jika kebanyakan orang berpikir anak boleh bermain sepuasnya sampai usia 4 tahun kemudian masuk Playgroup dan SD sampai sudah bisa cukup mandiri, maka pola ini tidak akan ditemui pada penyandang autis.

Farhan juga tidak memungkiri bahwa hasil diagnosis membuatnya membeda-bedakan perlakuan terhadap anak-anak.

"Berdiagnosis itu berbahaya karena bisa membuat orangtua melakukan labelling pada anaknya sendiri. Hadapi semua anak dengan mindset yang sama, tetapi treatmentnya harus berbeda. Perlakuan terhadap anak A, anak B dan anak C memang berbeda, tidak mungkin sama," jelas Farhan.

Pengobatan autis memang tidak bisa dilakukan secara sepotong-potong, melainkan secara holistik, begitu juga yang diterima Rizky. Mulai dari behavior intervention, kognitif, juga sensori integrasi hingga okupasi terapi sudah diberikan.

Gejala autisnya memang saat ini sudah berkurang, namun sampai saat ini si anak masih belum sadar bahaya seperti masih sering menyeberang jalan sembarangan.

Menurut Farhan, ada 5 hal penting yang perlu diajarkan kepada anak autis agar dapat mandiri, yaitu kebersihan diri, mengenali makanan sehat, mempelajari norma dan nilai-nilai di masyarakat, bersosialisasi dan terakhir adalah pendidikan kognitif.

"Berpikirlah bahwa anak ini suatu hari harus hidup mandiri, tidak mungkin selamanya ada orang yang mendampingi. Jadi, bekalilah dia dengan kemampuan untuk bertahan hidup," kata Farhan.

Khusus untuk masalah pendidikan kognitif, penyandang autis memang mengalami sedikit kesulitan. Farhan mengakui, putera sulungnya yang kini menginjak kelas 5 SD ini kurang dapat memahami konsep abstrak, misalnya adalah mata pelajaran agama dan IPS.

Farhan menuturkan, putera sulungnya lebih mudah mempelajari bahasa Inggris karena lebih terstruktur, sama seperti ketika mempelajari ilmu pengetahuan alam dan matematika.

"Aku melihatnya perlu pendekatan yang berbeda. Kita kasih hafalan dulu, baru diberi pengertian. Berbeda dengan anak yang tidak punya masalah tumbuh kembang kan biasanya diberi pengertian dulu baru bisa hapalan. Anak autis itu pola pikir sistemiknya lebih jalan dibanding pola pikir absratktif maupun empatik," kata Farhan.

Sebelum menutup perbincangan, Farhan memberikan tips kepada orangtua yang memiliki anak autis.

1. Orangtua harus segera menyadari adanya kelainan tumbuh kembang pada anak

2. Cari ahli yang bisa diajak konsultasi yang enak, karena ada beberapa ahli yang judgemental dan membikin sakit hati

3. Meskipun demikian, jangan kapok. Cari ahli lain yang lebih nyaman diajak konsultasi sebab saat ini profesional di bidang autisme sudah cukup banyak

4. Pilih metode yang paling pas dan jangan gonta-ganti. Tidak ada metode jangka pendek, semuanya jangka panjang. Yang paling penting adalah konsistensi.

 

 

Kamis, 12/07/2012 16:28 WIB

Jenis Permainan untuk Bayi yang Sesuai Usianya

Putro Agus Harnowo - detikHealth

Berbagi informasi terkini dari detikcom


Jakarta, Kualitas kehidupan seseorang sudah dapat ditentukan saat usianya menginjak 3 tahun. Pada usia tersebut, sel-sel otak tumbuh dengan sangat cepat semenjak dilahirkan. Segala hal yang terjadi pada rentang waktu ini akan mempengaruhi perkembangan bayi untuk selanjutnya. Untuk merangsang perkembangan otak bayi, perlu diberikan permainan sesuai tahapan usianya.

"Sel-sel otak janin tumbuh dan berkembang cepat sejak bulan pertama dalam kandungan. Pada usia 6 bulan, sel-sel otak membentuk banyak sinaps atau sambungan sel saraf dan membentuk rangkaian sirkuit fungsional yang kompleks. Proses ini berlangsung cepat sampai usianya mencapai 3 tahun," kata dr Jenni K. Dahliana, SpA, dokter spesialis anak dalam acara Soft OpeningKlinik Tumbuh Kembang Anak Ruwivito Harun Evasari (RHE) di Jakarta Pusat, Kamis (12/7/2012).

Untuk mengoptimalkan pertumbuhan sel saraf pada otak bayi, dr Jenni menuturkan, dibutuhkan 3 faktor yang saling melengkapi, yaitu fisik, kasih sayang dan stimulasi dini. Kebutuhan fisik dapat dipenuhi dari asupan nutrisi yang mempengaruhi pertumbuhan sel otak. Kebutuhan kasih sayang berfungsi mempengaruhi kemandirian dan kecerdasan emosi. Sedangkan stimulasi dini bermanfaat untuk merangsang seluruh indera anak.

"Stimulasi dini pada bayi dan balita merupakan permainan yang merangsang semua indera, merangsang gerakan kasar dan halus, kemampuan komunikasi, emosi, kreatifitas dan kemandirian. Kesemuanya merupakan cikal bakal proses pembelajaran anak," kata dr Jenni.

Praktiknya, stimulasi dini dilakukan dengan cara memberikan permainan kepada anak sesuai dengan tingkatan umurnya. Lebih lanjut lagi, dr Jenni memaparkan tingkatan permainan yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:

Untuk bayi 0 - 3 bulan, permainan yang bisa diberikan adalah dipeluk atau digendong, menatap mata bayi, diajak senyum dan bicara atau bernyanyi, digulingkan kanan kiri saat telentang atau tengkurap dan dirangsang memegang mainan.

Ketika bayi berusia 3 - 6 bulan, permainan ditambah dengan permainan cilukba, permainan melihat wajah di cermin, dan dirangsang tengkurap atau telentang bolak-balik.

Ketika menginjak usia 6 - 9 bulan, permainan ditambah dengan memanggil namanya, diajak salaman atau tepuk tangan, dibacakan dongeng dan dirangsang duduk serta berdiri berpegangan.

Menginjak usia 9 - 12 bulan, permainan ditambah dengan mengulang kata mama-papa, memasukkan mainan ke dalam wadah, minum dari gelas, bermain bola dan dilatih berdiri atau jalan berpegangan.

Menginjak usia 12 - 18 bulan, permainan ditambah dengan permainan mencorat-coret, menyusun kubus, menyebut nama atau bagian badan, bermain imajinatif dan permainan untuk melatih kemampuan motorik.

Menginjak usia 18 - 24 bulan, permainan ditambah dengan menyebut benda di sekitarnya, mengajak bicara mengenai kegiatan sehari-hari, permainan menggambar garis, serta dilatih mencuci tangan dan memakai pakaian.

"Setiap ada kesempatan, ajaklah anak untuk berinteraksi terus menerus dan bervariasi sesuai umur perkembangannya. Pastikan suasana bermain menyenangkan dan tidak terburu-buru. Perhatikan juga minat anak terhadap permainan," kata dr Jenni.

Permainan yang diberikan pada bayi ini tidak boleh digantikan fungsinya dengan TV ataupun vieo sebab stimulasinya bersifat pasif sehingga tidak merangsang minat bicara bayi. Selain itu, TV dan video terkadang mengandung banyak unsur negatif seperti agresifitas, kekerasan dan penggunaan bahasa yang kurang mendidik.

Klinik Tumbuh Kembang Anak Ruwivito Harun Evasari (RHE)

Jika para orangtua mengalami kesulitan dalam memberikan stimulasi dini, Klinik Tumbuh Kembang Anak Ruwivito Harun Evasari (RHE) memberikan layanan serupa. Selain itu, klinik tumbuh kembang anak ini juga memberikan layanan deteksi dini, intervensi dan evaluasi berkala terhadap tumbuh kembang anak.

Klinik Tumbuh Kembang RHE didukung oleh dokter-dokter spesialis anak, spesialis gizi, spesialis saraf, psikolog anak dan terapis berpengalaman. Untuk membuat suasana terapi lebih kondusif, setiap ruangan terapi dan ruang tunggu dirancang sesuai dengan kebutuhan yang mengutamakan kenyamanan dan keamanan anak.

Terdapat 4 ruangan terapi di klinik ini, yaitu ruang terapi sensori integrasi untuk melatih kemampuan motorik anak, ruang fisioterapi untuk melatih kemampuan fisik anak, ruang snozzelen untuk memberikan rangsangan ketenangan pada anak dan ruang terapi wicara untuk melatih kelancaran bicara, artikulasi dan irama bicara.

(pah/ir)

 


Kamis, 12/07/2012 17:26 WIB

Ini Tanda-tanda Bayi Alami Gangguan Perkembangan

Putro Agus Harnowo – detikHealth


Jakarta, Pada balita, proses pertumbuhan dan perkembangan terjadi dengan cepat. Proses ini dapat diamati dan diukur oleh orangtua dengan mudah. Tidak semua bayi memiliki proses tumbuh kembang yang sama. Beberapa di antaranya mengalami proses yang relatif lambat dibanding teman-teman sebayanya. Apabila hal ini terjadi, baiknya segera konsultasikan kepada ahli.

"Deteksi adanya gangguan tumbuh kembang anak perlu dilakukan sedini mungkin, terutama sampai usia 3 tahun dan dilanjutkan hingga remaja. Dengan demikian, jika ditemukan adanya gangguan, maka intervensi dan terapi juga dapat diberikan sesegera mungkin sehingga tidak terlambat mengganggu perkembangan bayi," kata dr Jenni K. Dahliana, SpA, dokter spesialis anak dalam acara Soft Opening Klinik Tumbuh Kembang Anak Ruwivito Harun Evasari (RHE) di Jakarta Pusat, Kamis (12/7/2012).

Menurut dr Jenni, semua anak, baik yang terlihat sehat sekalipun, perlu menjalani pemeriksaan untuk mengetahui adanya gangguan tumbuh kembang. Pemeriksaan bisa dilakukan oleh petugas kesehatan dan orangtua sendiri. Untuk orangtua, biasanya akan diberi daftar pertanyaan berdasarkan pengamatan terhadap anaknya sendiri di rumah.

"Pengamatan orangtua dapat dilakukan sambil memantau kondisi anaknya di rumah. Misalnya pada bayi baru lahir lama tidur siangnya sama dengan lama tidur malamnya. Secara berangsur-angsur, lama tidur siangnya menurun dan setelah umur 4 tahun, anak tak lagi perlu tidur siang," kata dr Jenni.

Lebih jauh lagi, dr Jenni memaparkan kriteria-kriteria sinyal bahaya gangguan tumbuh kembang pada anak adalah sebagai berikut:

Ketika bayi di bawah 1 tahun, anak tidak dapat:

- Merespon bunyi atau matanya mengikuti benda bergerak

- Bermain dengan kedua tangan, meraih dan memegang

- Tersenyum

- Bergumam atau babbling

- Mencari mainan yang jatuh

Ketika berusia 12 bulan anak tidak dapat:

- Berdiri sendiri atau jalan berpegangan

- Menunjuk benda-benda

- Mengucapkan setidaknya 1 kata yang bermakna

- Berbagi mainan

Ketika berusia 18 bulan anak tidak dapat:

- Berlari tanpa terjatuh

- Menyusun 3 kubus mainan

- Menutup gelas

- Mengucapkan 10 kata atau lebih dan tahu artinya

- Menyebutkan namanya

Ketika berusia 24 bulan anak tidak dapat:

- Melompat dengan 2 kaki secara bersamaan

- Membuka botol dengan memutar tutupnya

- Menyebutkan 6 bagian tubuh

- Menjawab dengan kalimat yang terdiri dari 2 kata

Ketika berusia 36 bulan anak tidak dapat:

- Turun tangga dengan kaki bergantian tanpa berpegangan

- Meniru garis tegak, garis datar dan lingkaran

- Menyebut 3 warna

- Bertanya dengan memakai kata apa, siapa dan di mana

- Bermain bersama teman

 


Kamis, 12/07/2012 17:57 WIB

Handphone Bantu Tingkatkan Komunikasi Anak yang Terlambat Bicara

Putro Agus Harnowo – detikHealth

Berbagi informasi terkini dari detikcom



Jakarta, Pada usia 12 bulan, anak biasanya sudah dapat mengeluarkan kata-kata yang bermakna. Namun ada kalanya sampai berusia 2 tahun, anak masih sulit menjawab pertanyaan sederhana. Jika ditemui kasus ini, besar kemungkinan anak mengalami gangguan keterlambatan bicara, salah satu gangguan tumbuh kembang yang paling banyak dialami anak di Indonesia.

"Orangtua tidak dapat memaksa jika anak tidak dapat berkomunikasi lewat verbal. Yang penting adalah anak mengerti apa yang dibicarakan. Maka jika anak-anak tidak dapat bicara, pemahamannya dulu kita tingkatkan. Sebab jika dia tidak paham maka dia tidak akan bisa berkomunikasi, apapun bentuknya," kata dr Dr. Trully Kusumawardhani, Sp.A, dokter spesialis anak dalam acaraSoft Opening Klinik Tumbuh Kembang Anak Ruwivito Harun Evasari (RHE) di Jakarta Pusat, Kamis (12/7/2012).

Pemahaman kemampuan bahasa anak dapat diperbaiki lewat terapi. Setelah pemahamannya bagus dan mengerti pembicaraan atau kalimat yang dikatakan, baru kemampuan berbicaranya ditingkatkan. Pada beberapa anak yang mengalami gangguan bicara, mereka bisa memahami namun tidak dapat melafalkan kata-kata.

Agar dapat berbicara, tubuh melalui proses yang cukup panjang. Otak memiliki 2 jalur komunikasi. Jalur pertama untuk pemahaman bahasa dan jalur berikutnya untuk berbicara. Dalam kemampuan berbicara, selain ada upaya otak untuk mengungkapkan apa yang dimaksud, koordinasi otot-otot untuk berbicara juga harus benar.

"Kalau diibaratkan komputer ada monitor, ada CPU dan printer. Nah pada kasus seperti ini, printernya macet, jadi monitornya saja yang jalan. Agar dapat berkomunikasi, anak-anak bisa menggunakan teknologi seperti sms lewat hape atau pakai kartu bergambar," jelas dr Trully.

 

Sulit untuk menetapkan batasan kapankah seorang anak penderita gangguan bicara pada akhirnya benar-benar mampu berkomunikasi dengan lancar. Tapi upaya tersebut akan selalu dicoba dan harapannya di suatu titik si anak akan bisa. Apalagi penelitian mengenai autis dan gangguan wicara belum banyak di Indonesia, sehingga batasan lama terapi yang diberikan juga belum dapat ditentukan dengan pasti.

 

Yang membuat masalah gangguan bicara makin sulit ditangani adalah banyak orangtua yang mengasuh anaknya dengan TV dan channel untuk anak yang kabarnya bagus. Tapi hal itu tidak akan membuat bayi menjadi lebih pintar karena TV dan film merupakan media komunikasi satu arah, anak hanya diam dan menonton, jadi tidak dapat bicara.

 

"Sebenarnya yang paling bagus adalah komunikasi, kita ajak ngobrol. Tapi bukan berarti program TV itu jelek. Asal ada pendamping dan dipandu oleh orangtua, maka tidak apa-apa. Semua anak kalau dikasih TV akan diam, anak hiperaktif pun jika disetelkan TV juga akan anteng," kata dr Trully.