Anak Berkebutuhan Khusus Butuh Dukungan Keluarga

Wednesday, 25 July 2012

 


Anak sehat adalah impian para orang tua.  Setiap orang tua pasti menginginkan memiliki anak yang sehat. Namun,apa jadinya jika Tuhan memberikan seorang anak yang tidak sesuai dengan harapan?

Mungkin mereka merasa marah,sedih,dan kecewa. Padahal,tidak harus bersikap seperti itu. Memang, mendidik anak-anak dengan kebutuhan khusus bukanlah suatu hal yang mudah. Diperlukan kerja sama dan kekompakan antar-anggota keluarga. Orang tua harus dapat menyikapi secara positif agar selanjutnya dapat menemukan langkah-langkah yang tepat untuk mengoptimalkan perkembangan dan berbagai potensi yang masih dimiliki oleh sang anak.


Sebab,di samping memiliki kekurangan,anak berkebutuhan khusus (ABK) juga memiliki modal yang cukup baik untuk dapat dikembangkan. Keluarga merupakan lingkungan terdekat bagi ABK dalam mengembangkan potensinya.Menurut Heward (2003), efektivitas program terapi ABK sangat bergantung pada peran dan dukungan keluarga. Karena keluarga yang mampu memahami dan mengenal berbagai aspek dalam diri ABK.

Heward juga mengatakan, dalam sebuah keluarga yang kondusif dan anggota keluarga yang memiliki kedekatan emosional serta sifat yang komunikatif satu sama lain, akan tersedia berbagai macam dukungan untuk mengatasi hambatan perkembangan yang dialami oleh anak. Penerimaan dan cara keluarga dalam menyikapi ABK juga sangat berpengaruh pada perkembangan psikologis mereka. Sikap orang tua dan keluarga yang menerima akan memunculkan energi dan percaya diri bagi anak.

Sementara,sikap menolak biasanya ditunjukkan dengan menyembunyikan dan tidak mengikutsertakan ABK saat orang tua bepergian. “Hasil dari konsep penolakan ini akan menimbulkan sikap menarik diri dan tidak percaya diri bagi ABK,”sebut psikolog anak, Dra Ratu Adhe Wazna MPsi. Dia mengungkapkan,dukungan keluarga merupakan energi yang tak ternilai bagi ABK untuk bisa berkembang optimal seperti anak normal pada umumnya.


Ada banyak cara untuk keluarga memberikan perannya terhadap ABK,di antaranya dengan memupuk keterlibatan emosi antara anggota keluarga,menciptakan komunikasi yang saling mendukung antar keluarga. Ratu menyebutkan,keterlibatan anggota keluarga, seperti antar-saudara dalam melatih ABK akan menjadi support sosial yang baik dari segi fisik dan psikis.

Bila orang tua memiliki lebih dari satu anak dan salah satunya adalah ABK, maka sang kakak atau adik dari ABK harus diajarkan untuk mengerti kondisi saudaranya. Juga, diharapkan orang tua menanamkan rasa saling mengasihi dan menyayangi antar-saudara ini. Dapat dikatakan, pengasuhan dan pendidikan yang baik bagi ABK tidak harus dengan dana yang besar melalui dukungan keluarga. Orang tua dapat memilih cara yang tepat dan sesuai untuk melakukan terapi ABK.

Sesuai dengan karakteristik, kondisi,dan kemampuan keluarga itu sendiri.Treatment (latihan) yang dilakukan dapat mencapai hasil maksimal,walaupun treatmentitu hanya berupa aktivitas yang sederhana. “Coba latih anak melalui tangan sendiri,bukan lewat pengasuh atau terapis karena dampaknya akan jauh lebih besar. Jangan mengandalkan terapis.Orang tua harus melakukan lagi continue di rumah 1 jam per hari,” tambahnya.


Program-program dalam memperlakukan anak-anak harus mengarah pada peningkatan hasil bagi anak maupun keluarga. Status pengembangan anak harus mengalami kemajuan dalam kemampuan fungsional berdasarkan ketidakmampuan gaya belajar. Melalui pendampingan terapi dan dukungan emosional serta sosial keluarga,perkembangan ABK akan lebih optimal.

dyah ayu pamela_“Ada banyak ABK yang ternyata memiliki kelebihan tertentu dari anak-anak lainnya. Jadi, jangan bilang bahwa anak ABK tidak bisa berkembang optimal. Mungkin di satu sisi punya kekurangan, tapi di sisi lainnya mereka punya kelebihan,asal orang tua tahu cara menyikapinya,”ujar dia lagi.





FAMILY - Dukung Anak Tumbuh Optimal

Tuesday, 17 July 2012

 


Tiga tahun pertama, perkembangan otak anak begitu cepat dan kompleks. Orang tua harus memahami konsep Tumbuh Kembang Anak untuk mendukung perkembangan otak pada masa emas tersebut.

Golden period, begitulah sebutan untuk masa emas pertumbuhan anak pada tiga tahun pertama. Tentu saja, bagi anda yang ingin melihat si buah hati tumbuh cerdas dan pintar, jangan pernah menyia-nyiakan waktu tersebut. Selama tiga tahun pertama ini proses perkembangan otak terjadi cepat dan kompleks.

Mulanya, sel-sel otak janin tumbuh dan berkembanga cepat sejak bulan pertama di dalam kandungan. Kemudian sejak kehamilan bulan ke-6, sel-sel otak membentuk banyak sinaps dan rangkaian fungsional (sirkuit) kompleks yang kesemuanya itu tergantung pada asupan gizi dan stimulasi. Ahli tumbuh kembang anak dipengaruhi faktor genetik dan lingkungan.


Karenanya, orang tua harus memahami konsep tumbuh kembang anak dalam masa emas ini. Kelainan yang didapat saat dalam kandungan sejak awal harus diketahui. Pemantauan berkala harus dilakukan orang tua agar dapat sedini mungkin mengetahui apabila terjadi masalah dalam tumbuh kembang sang anak. Jenni mengimbau agar orang tua mengetahui tahap-tahap perkembangan kemampuan dan kecerdasan anak pada usia tertentu. Misalnya usia di mana anak seharusnya sudah bisa memegang, bicara, atau merangkak.

Bila ada kecurigaan anak tidak merespons bunyi, tidak tersenyum, mata tidak mengikuti benda bergerak, tidak bermain-main dengan kedua tangan, tidak mampu duduk pada saat usianya dengan kemampuan itu cukup, maka orang tua perlu mengonsultasikan kepada dokter. Jenni menambahkan, orang tua juga dapat melakukan screening di rumah sakit untuk mendiagnosa terjadinya masalah tumbuh kembang anak yang dikenal dengan nama Parents Evaluating of Developmental Status (PEDS). PEDS berupa kuesioner pertanyaan singkat untuk orang tua yang telah distandardisasi. Sebanyak 10 aspek tumbuh kembang anak akan dinilai.


Bila hasil PEDS menemukan ada masalah, maka akan dirujuk untuk melakukan konsultasi lebih lanjut kepada dokter. Lalu apa saja yang diperlukan untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak Anda? “Dibutuhkan dukungan faktor fisik dari segi biologis, kasih sayang, dan stimulasi dini,” sebutnya dalam seminar bertajuk Parents Evaluating of Developmental Status (PEDS) dan Family Support di jakarta, belum lama ini.

Menurut Jenni, faktor pemenuhan kebutuhan biologis bayi dan balita, gizi dan imunisasi, kebersihan badan, dan lingkungan tempat tinggal, pengobatan, serta kebutuhan bergerak dan bermain, harus menjadi perhatian orang tua. Sebab inilah yang berpengaruh pada pertumbungan fisik dan berbagai kecerdasan anak. Dia mengatakan, asupan gizi penting untuk perkembangan otak. Sebab protein, karbohidrat, dan lemak dibutuhkan untuk pertumbungan otak, pembentukan pembungkus saraf, dan zat pengantar rangsang (neurotransmitter) pada sambungan sel saraf.


Selain itu, makro dan mikro nutrien nya akan berpengaruh pada tingkat kecerdasan bayi. Begitu juga dengan imunisasi, yang juga menjadi kebutuhan penting untuk tumbuh kembang anak. Imunisasi diberikan agar anak terhindar dari beberapa penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan sakit berat, meninggal, atau cacat. “Bila tidak diimunisasi lengkap, akan sering sakit dan nafsu makan terganggu yang menyebabkan gizi kurang serta terhambatnya tumbuh kembang,” katanya...

Dyah ayu pamela.